MADILOG.CO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (30/1/2026) siang. Pelemahan rupiah terjadi seiring sentimen negatif yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Mengacu pada data Bloomberg, hingga pukul 10.51 WIB di pasar spot, rupiah tercatat melemah 32 poin atau sekitar 0,19 persen ke posisi Rp16.787 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menunjukkan penguatan dengan kenaikan 0,32 persen ke level 96,59.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026), rupiah juga mengalami pelemahan. Mata uang Garuda ditutup turun 33 poin atau 0,2 persen ke level Rp16.755 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik yang berlanjut dari hari sebelumnya. Menurutnya, pasar saham Indonesia sempat mengalami koreksi signifikan setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat indeks ekuitas Indonesia menjadi underweight, dengan pertimbangan meningkatnya risiko arus keluar dana asing.
Kondisi tersebut sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga sekitar 8 persen, sehingga memicu penghentian perdagangan sementara atau circuit breaker. Meski demikian, pada sesi perdagangan kedua Kamis, tekanan terhadap IHSG mulai mereda setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan rencana peningkatan transparansi pasar guna memenuhi ketentuan MSCI.
Walau sempat membaik, IHSG tetap ditutup melemah 1,06 persen ke level 8.232, dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai sekitar 275,86 juta dolar AS.
Josua menambahkan, tekanan dari pasar saham turut membebani pergerakan rupiah yang sebelumnya sudah tertekan oleh sinyal dari bank sentral AS, The Federal Reserve, yang mengindikasikan suku bunga acuan kemungkinan dipertahankan dalam waktu dekat.
Untuk perdagangan hari ini, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.825 per dolar AS.(*)












